MotoGP MotoGP regulations MotoGP rider market aerodinamika motogp, Akuisisi MotoGP, Americas MotoGP, Analisis MotoGP 2025, Aprilia MotoGP, Aragon MotoGP, Aruba Racing Ducati, Aruba.it Ducati, Aruba.it Racing Ducati, Austria MotoGP, Austrian MotoGP, Balapan MotoGP, Balapan MotoGP 2025, Barni Ducati, Barni Spark Ducati, Berita WorldSBK 2026, Cedera Marc Marquez, Cengkeraman Belakang, Desmosedici GP25, Dominasi Ducati, Ducati, Ducati 916, Ducati Corse, Ducati GP24, F1 2026, Livery F1 2026, Marc Marquez, Mobil F1 2026, MotoGP 2026, MotorGP 2026, Musim F1 2026, Musim MotoGP 2026, Pembaruan Rencana 2026, Pengembangan Motor, Regulasi 2026 doko 0 Comments
Ambisi Marc Marquez di Ducati 2026: Cengkeraman Belakang Jadi Prioritas?
Ambisi Marc Marquez di Ducati 2026: Cengkeraman Belakang Jadi Prioritas?
Marc Marquez, juara dunia MotoGP, memberikan pandangannya mengenai pengembangan Ducati Desmosedici untuk musim 2026. Fokus utamanya adalah menemukan keseimbangan sempurna antara feeling bagian depan motor dengan cengkeraman belakang yang optimal.
Dalam dunia pengembangan motor MotoGP, tidak ada ‘makan siang gratis’. Setiap peningkatan performa di satu area, hampir pasti akan berdampak pada area lain. Kuncinya adalah memastikan bahwa keuntungan yang didapat lebih besar daripada kerugiannya, dan ini harus berlaku di semua jenis trek.
Marquez menanggapi upaya rekan setimnya, Francesco Bagnaia, dan Fabio di Giannantonio (VR46) untuk meningkatkan feeling bagian depan Desmosedici 2026. Ia memahami pentingnya hal tersebut, namun mengingatkan akan potensi dampaknya.
Keseimbangan yang Rumit
“Tentu saja, semua pembalap selalu berusaha meningkatkan diri. Dan memang, jika Anda memiliki feeling depan yang lebih baik, itu krusial,” ujar Marquez.
“Tetapi biasanya, ketika Anda meningkatkan bagian depan, Anda akan kehilangan sebagian cengkeraman belakang, misalnya. Anda harus menemukan kompromi yang tepat.”
Marquez yakin bahwa Ducati memiliki fondasi yang sangat baik dan akan terus melakukan pengembangan bertahap. Ia menekankan bahwa perubahan besar dan terburu-buru justru bisa mengarah ke arah yang salah.
Pelajaran dari GP25
Kesulitan dalam menentukan batas pengembangan ini tercermin dari keputusan Ducati untuk kembali menggunakan mesin GP24 setelah awalnya mencoba spesifikasi GP25 dalam pengujian pramusim. Bagnaia dan di Giannantonio kesulitan menemukan performa yang konsisten dengan GP25, sementara Marquez justru tampil dominan dengan motor berbasis GP24.
Titik Balik di Aragon
Marquez mengungkapkan bahwa tes pasca-balapan Aragon sangat penting dalam peningkatan performanya. Perubahan pada setup motor dan aerodinamika membantunya merasa lebih nyaman dan lebih dekat dengan pembalap Ducati lainnya.
“Sejak tes Aragon, kami membuat langkah maju. Kami melakukan langkah maju dalam setup motor dan juga dengan aerodinamika. Saya merasa lebih baik dan lebih baik dengan aero baru, tetapi terutama setup motor,” katanya.
“Apa yang kami lakukan hanyalah lebih dekat dengan pembalap Ducati lainnya. Geometri yang sama, dimensi yang sama. Jadi di bagian pertama musim, saya mengendarai motor yang berbeda, lebih gugup, tetapi [setelah tes Aragon] itu adalah motor yang lebih mudah dikendarai.”
Marquez, yang mengalami cedera setelah meraih kemenangan kesembilannya di Motegi, dijadwalkan untuk kembali pada tes pramusim Sepang di awal Februari. Ia berharap dapat memberikan masukan berharga bagi pengembangan Ducati di masa depan, terutama dalam hal menjaga cengkeraman belakang yang optimal.




Post Comment